Kesehatan kulit

Jerawat di Kepala, Apa Pemicunya?

Kompas.com - 25/05/2010, 09:58 WIB

KOMPAS.com — Tak seperti jerawat di muka, jerawat yang tumbuh di kepala memang tidak terlalu bikin malu. Masalahnya, jerawat di kepala tidak kalah mengganggu karena saat rambut disisir perlahan pun akan menimbulkan rasa sakit.

Penggunaan minyak rambut dan jarang keramas sering memicu tumbuhnya jerawat ini. Kaum perempuan boleh sedikit lega karena jerawat di kepala ternyata lebih banyak diderita pria.

"Karena pria biasa menggunakan minyak rambut atau sering disebut pomade," ujar dokter spesialis kulit, Dr Ratna Komala Dewi SpKK Mkes.  Perempuan tidak menggunakan minyak rambut dan umumnya lebih rajin merawat rambut sehingga jarang yang terkena jerawat kepala.  

Jerawat di kepala dapat muncul karena minyak rambut mengandung zat kimia yang dapat merangsang kulit kepala menghasilkan lebih banyak minyak. Faktor lain, kelenjar sebasea atau kelenjar minyak pada kulit kepala pria lebih banyak daripada wanita sehingga jerawat lebih cepat tumbuh.

Jerawat adalah kondisi abnormal kulit akibat berlebihnya produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit. Untung saja kasus ini sangat kecil persentase penderitanya karena kepala dilindungi rambut sehingga bakteri atau penyebab jerawat tidak mudah masuk.

"Lebih banyak kasus jerawat di muka karena muka kita tidak terlindungi oleh rambut seperti kepala," ujar dokter di Rumah Sakit Haji Pondok Gede ini.

Di wajah, jerawat bisa muncul karena adanya peradangan di kulit. Bila kelenjar minyak memproduksi minyak kulit (sebum) secara berlebihan, akan terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dan meransang pembentukan komedo (whiteheads) dan seborhoea. Bila sumbatan membesar, komedo terbuka (blackheads) muncul sehingga terjadi interaksi dengan bakteri.

Kepala botak
"Jerawat yang tumbuh di kepala berbeda tahapnya dengan yang di muka. Acne head langsung ke papule postul dan kemudian menjadi nodul atau jerawat," katanya. Papule postul adalah benjolan yang diameternya kurang dari 0,5 sentimeter dan belum ada isinya.

Sebaliknya, nodul  adalah benjolan berdiameter 0,5-1 cm dan sudah ada isinya. Nodul inilah yang dikenal sebagai jerawat. Jerawat di kepala, tambah Dr Ratna, bisa juga membentuk koloni karena folikel rambut tumbuh sendiri dari jarak yang berjauhan. Biasanya jerawat berkoloni ini dialami orang berkepala botak.

Gejala hadirnya jerawat ini sama seperti gejala ketombe atau dermatitis. Rasa gatal jadi tanda awalnya. Lalu timbul juga rasa nyeri sehingga terkadang membuat kepala menjadi pusing dan sakit jika tersentuh.

Rambut rontok
Harus diwaspadai bila acne head membesar karana dapat mengakibatkan peradangan dan melebar. Jika sudah melebar, akan cepat terjadi infeksi. Infeksi ini bisa membahayakan karena membuat kulit kepala tidak sehat dan berbau. "Juga dapat merontokkan rambut sampai terjadi kebotakan," ungkapnya.

Jerawat di kepala terutama disebabkan produksi kelenjar minyak yang berlebihan, bukan karena zat kimia misalnya yang terkandung dalam sampo. Karena itu, Dr Ratna menyarankan agar setiap individu memahami betul jenis kulit kepalanya. Kaum pria dianjurkan tidak menggunakan minyak rambut dalam jumlah berlebih karena akan memacu produksi kelenjar minyak yang berlebih.

Untuk mengobati jerawat kepala, dokter biasanya memberikan obat minum seperti antibiotik dan obat oles. Obat minumnya bertujuan menghilangkan rasa nyeri, sedangkan obet oles untuk memperkecil jerawat.

"Selama ini pengobatan ini selalu berhasil. Kecuali jika jerawat sudah infeksi, dibutuhkan penanganan khusus seperti memberikan isotretinoin untuk mengeringkan infeksi dari dalam," ujarnya. (GHS/put)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau